Minggu, 20 Juni 2010

Tanggapan Kasus Sistem Pengendalian Manajemen

Teori agen system pengendalian manajemen dalam badan teori tidak sesuai sehingga terjadi masalah dalam pencapaian tujuannya. Dimana keagenan lebih mementingkan kepentingan pribadi tanpa melihat resiko yang ada. Dan dalam mengarahkan usaha lebih sedikit dan proyek kemampuannya lebih tinggi dalam mengatasi usaha yang bermasalah. System pengendalian manajemen dalam penyelesaian masalah kurang efisien sehingga tidak dapat menjelaskan tingkah laku atas sifat agen yang tepat dan system pengendalian manajemen pada resiko yang dialami dan ditanggapi ketika perusahaan mempunyai dalil.

Pada suatu perusahaan diperlukan suatu sistem pengendalian manajemen yang baik, yaitu salah satunya dari sisi sistem informasi mengenai penganggaran dan pelaporan yang berkaitan langsung dengan pengawasan dan pengamatan langsung manajerial untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan dan pengambilan keputusan secara struktural. Selain itu sistem kontrol terhadap organisasi untuk menyelaraskan motif perusahaan dengan tujuan organisasi karena hal ini berpengaruh terhadap aspek-aspek sistem kontrol. Dalam hal ini juga sistem pengendalian manajemen memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk mengurangi resiko-resiko yang akan timbul. Identivikasi pada teori perusahaan berharap dapat berkontribusi pada pemahaman dan resolusi yang timbul pada suatu perusahaan agar output perusahaan dapat terkendali dengan baik. Hal ini dapat berpengaruh positif terhadap kondisi perusahaan, karena dengan sistem pengendalian yang baik, maka dapat menunjukkan bahwa perusahaan terkordinasi dengan baik dan meningkatkan pencitraan perusahaan.

Rancangan kompensasi dalam teori ini misalnya mengenai pembayaran gaji dapat di lihat berdasar kinerja, dan program akan berdampak positif jika berhubungan dengan skema kompensasi berbasis perilaku, akan tetapi berdampak negatif yang terkait dengan penggunaan kontrak berbasis hasil. Jika ada suatu pekrjaan yang berada di luar program maka dapat dilakukan suatu keputusan dengan menilai kinerja, karena dengan begitu manajer dapat memonitor kinerja dan hasil yang dicapai. Biaya langsung suatu pemantauan tindakan individu melebihi biaya administratif insentif berdasarkan hasil kinerja, kinerja insentif kontingen adalah metode paling disarankan untuk suatu pengendalian, karena efektivitasnya.

Peran sistem informasi manajemen berkaitan dengan pelaporan akuntansi, peran sistem informasi manajemen menjadi bagian dari prosedur pemerintahan, yaitu memonitor kegiatan perusahaan. Karena suatu sistem informasi manajemen perusahaan dapat mempengaruhi keputusan dan jalannya perusahaan.

Evaluasi kinerja pada teori perusahaan ini mempertanyakan bagaimana kinerja dievaluasi. Dalam hal ini evaluasi kinerja berperan dalam menambah wawasan kerja pegawai, akan tetapi evaluasi tidak cukup untuk memenuhi suatu tujuan perusahaan. Sehingga perlu diadakannya suatu program pengevaluasian kinerja.

Variabel yang digunakan dari lembaga-lembaga dan kelembagaan teori perspektif untuk memeriksa kebijakan kompensasi digunakan sistem informasi, biaya pengukuran hasil, dan ketidakpastian hasil dapat memprediksi gaji versus komisi pilihan. Kemampuan untuk memantau agen berhubungan negatif dengan kinerja kompensasi kontigen perilaku dan memberikan bukti langsung bahwa agen bertindak oportunis dan memilih kontrak kerja yang efesien dapat mengurangi masalah keagenan. Sementara hasil mendukung prediksi organisasi klasik yang dibawah organisasi resiko lebih tinggi membayar proporsi yang lebih tinggi gaji variabel, sehingga model control management, insentif, dan aspek motivasi hanya dalam waktu tertentu dapat mengatur produksi sehingga interaksi antara persediaan dan masalah insentif sangat difokuskan dalam penelitian empiris tersebut.

Informasi kondisi sebagai dasar untuk merancang pelaporan akuntansi manejerial dan evakuaisi kinerja sistem, sehingga agen yang lebih baik dengan mendelegasikan pelaporan hasil pilihan untuk agen. Ukuran evaluasi kinerja harus terjadi pada sensifitas yang mendukung pandangan bahwa ketika kompensasi tergantung agen, hanya pada data akuntansi, informasi kinerja mengenai kegiatan tidak langsung berhugungan.

Dapat memperhatikan pada teori keagenan bahwa senjangan anggaran itu diperlemah oleh tekanan social untuk mengungkapkan informasi yang benar dan dapat menunjukkan bahwa tekanan social terhadap keliru dapat menyelaraskan tujuan pribadi bawahannya dengan orang-orang manajemen.

Perilaku budaya yang ada di perusahaan berpengaruh pada pengendalian manajemen. Hal ini dapat menghambat proses system manajerial karena kurang transfer lintas budaya, asum, adanya asumsi tersebut berpengaruh terhadap pada anggaran. Sub-sistem control tradisional, yaitu partisipasi terhadap anggaran, penekanan anggaran, dan system kompensasi seperti yang diperkirakan oleh teori agen untuk kelompok barat, tidak berlaku untuk suatu kelompok. Dalam teori agen yang d.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar